Pengumuman Hasil UNBK SMA dan SMK Dipublikasikan Senin 30 April 2018
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, hasil pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan diumumkan Senin (30/4).
Pernyataan ini disampaikan Muhadjir, usai menjadi pembicara di Seminar Nasional Profesionalisme Guru Abad 21.
Namun, pengumuman hasil UNBK ini menurut Ahmad Widya, Kepala SMKN 7 Pandeglang, belum dapat diterima langsung siswa, karena hasil UNBK dimaksud baru dari Kemendikbud dan disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten /Kota. Pengumuman hasil UNBK baru disampaikan ke peserta didik pada Rabu, 2 Mei 2018.
“Hasil Ujian Nasional secara umum bagus di luar perkiraan kita. Kabar yang sempat mencuat ke permukaan itu masalah sulitnya soal, karena sebenarnya tidak banyak, kurang dari 10 persen total soal,” kata Muhadjir di samping Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (28/4), seperti dilansir laman republika.
Mendikbud menilai, adanya soal-soal HOTS itu masih sekadar perkenalan. Namun, nilai anak-anak terbilang sudah lumayan. Walau ada beberapa mata pelajaran yang sedikit menurun, konsep yang sama diakui akan dipertahankan tahun depan mengingat itu jadi standar.
Muhadjir mengingatkan, Ujian Nasional (UN) memang harus berstandar internasional, yang berarti menggunakan standar lembaga internasional yang sudah memiliki rekognisi. Dari sekian banyak lembaga internasional, Indonesia memang harus membuat pilihan.
“Memang harus ada langkah konkrit, termasuk sosialisasi guru, melatih guru, dan guru-guru dibiasakan membuat berbagai macam soal itu,” ujar Muhadjir.
Tapi, ia menekankan, sebenarnya langkah itu sudah disosialisasikan kepada guru-guru selama satu tahun terakhir. Perihal itu belum familiar, Muhadjir melihatnya cukup wajar karena memang barus disosialisasikan satu tahun terakhir.
Untuk itu, pelaksanaannya masih terbilang kompromis, dan kehadiran soal-soal itu masih ada di bawah 10 persen. Selain itu, ia melihat, tingkat keluhan yang hanya sebagian siswa dibandingkan 4,2 juta siswa yang mengikuti UN tidak cukup signifikan.
“Bukan berarti saya tidak memperhatikan itu, tapi itu sebetulnya tidak signifikan, hanya karena memang dimuat di media sosial saja,” kata Muhadjir.
Ini berarti, tahun depan porsi soal-soal HOTS yang dikeluhkan akan lebih banyak diajarkan maupun diujikan. Bagi Muhadjir, itu merupkaan bagian dari wacana menyiapkan siswa yang nantinya akan menjadi penghuni abad 21.
“Ada 4C itu kan critical thinking, creativity, kemampuan berkomunikasi (communication) dan colaboration, untuk Indonesia ada tambahan satu confidence. Sistem pendidikan kita kurang memberikan peluang cukup untuk anak-anak punya kepercayaan diri tinggi,” ujar Muhadjir.(red)
Sumber: Tribunnews.com
Pernyataan ini disampaikan Muhadjir, usai menjadi pembicara di Seminar Nasional Profesionalisme Guru Abad 21.
Namun, pengumuman hasil UNBK ini menurut Ahmad Widya, Kepala SMKN 7 Pandeglang, belum dapat diterima langsung siswa, karena hasil UNBK dimaksud baru dari Kemendikbud dan disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten /Kota. Pengumuman hasil UNBK baru disampaikan ke peserta didik pada Rabu, 2 Mei 2018.
“Hasil Ujian Nasional secara umum bagus di luar perkiraan kita. Kabar yang sempat mencuat ke permukaan itu masalah sulitnya soal, karena sebenarnya tidak banyak, kurang dari 10 persen total soal,” kata Muhadjir di samping Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (28/4), seperti dilansir laman republika.
Mendikbud menilai, adanya soal-soal HOTS itu masih sekadar perkenalan. Namun, nilai anak-anak terbilang sudah lumayan. Walau ada beberapa mata pelajaran yang sedikit menurun, konsep yang sama diakui akan dipertahankan tahun depan mengingat itu jadi standar.
Muhadjir mengingatkan, Ujian Nasional (UN) memang harus berstandar internasional, yang berarti menggunakan standar lembaga internasional yang sudah memiliki rekognisi. Dari sekian banyak lembaga internasional, Indonesia memang harus membuat pilihan.
“Memang harus ada langkah konkrit, termasuk sosialisasi guru, melatih guru, dan guru-guru dibiasakan membuat berbagai macam soal itu,” ujar Muhadjir.
Tapi, ia menekankan, sebenarnya langkah itu sudah disosialisasikan kepada guru-guru selama satu tahun terakhir. Perihal itu belum familiar, Muhadjir melihatnya cukup wajar karena memang barus disosialisasikan satu tahun terakhir.
Untuk itu, pelaksanaannya masih terbilang kompromis, dan kehadiran soal-soal itu masih ada di bawah 10 persen. Selain itu, ia melihat, tingkat keluhan yang hanya sebagian siswa dibandingkan 4,2 juta siswa yang mengikuti UN tidak cukup signifikan.
“Bukan berarti saya tidak memperhatikan itu, tapi itu sebetulnya tidak signifikan, hanya karena memang dimuat di media sosial saja,” kata Muhadjir.
Ini berarti, tahun depan porsi soal-soal HOTS yang dikeluhkan akan lebih banyak diajarkan maupun diujikan. Bagi Muhadjir, itu merupkaan bagian dari wacana menyiapkan siswa yang nantinya akan menjadi penghuni abad 21.
“Ada 4C itu kan critical thinking, creativity, kemampuan berkomunikasi (communication) dan colaboration, untuk Indonesia ada tambahan satu confidence. Sistem pendidikan kita kurang memberikan peluang cukup untuk anak-anak punya kepercayaan diri tinggi,” ujar Muhadjir.(red)
Sumber: Tribunnews.com

