Kamis, 26 Juli 2018

TERIMA KASIH ATAS PENGABDIANMU



Setelah mengabdikan diri sejak 1984 (31 th) di SMA Widya Bhakti Palembang, hari senin, 23 Juli 2018 merupakan hari terakhir Bpk H. Burhanuddin, S.Pd mengajar di SMA Widya Bhakti Palembang. Di usia 60 tahun dengan kondisi kesehatan yang kurang baik beliau pamit untuk tidak dapat mengajar lagi. Terima kasih atas pengabdianmu Bpk H. Burhanuddin, S.Pd dalam mendidik anak bangsa selama ini, pengabdian yang tidak bisa dihitung dengan materi. Semoga ilmu yang telah kau ajarkan bermanfaat bagi anak-anak bangsa ini. (by kiss)


Berpamitan dengan seluruh siswa

Foto bersama dengan sebagian guru dan karyawan

Pemberian Cinderamata dari Pengurus Yayasan

Sambutan dari Kepala SMA Widya Bhakti Palembang

Selasa, 01 Mei 2018

Wisata Educatif SMA Widya Bhakti Palembang

Raut wajah suka cita nampak pada siswa/i SMA Widya Bhakti yang telah selesai mengikuti UNBK 2018. Suka cita ini mereka tuangkan dalam Pelepasan Siswa/i Kelas XII Tahun 2018 dengan melakukan Wisata Educatif yang diikuti oleh seluruh siswa/i kelas XII dan juga diikuti oleh siswa/i perwakilan kelas X, XI dan  seluruh dewan guru pengajar. Dari petikan gitar seorang siswa dendang-dendang lagu pun dilantunkan mengiringi perjalanan bus Trans Musi suasana menjadi riang melepas masa-masa indah SMA.
Wisata educatif yang dilaksanakan pada 16/04/2018 ini memillih tempat-tempat yang menjadi kebanggaan masyarakat kota Palembang, berawal dari kunjungan wisata ke Al-Qur'an Al-Akbar yang berada di Kecamatan Gandus.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Museum Purbakala Propinsi Sumatera Selatan dan diakhiri kunjungan ke wisata fotografi tiga dimensi D'Matto Palembang.
Perjalanan wisata educatif ini selain sebagai acara pelepasan siswa kelas 12 yang telah menyelesaikan US, USBN dan UNBK juga bertujuan agar siswa/i dapat mengambil hikmah/pelajaran dari apa yang dilihat untuk meniti masa depan.

Minggu, 29 April 2018

Jelang Pengumuman Kelulusan, Siswa Dilarang Corat-coret Seragam dan Konvoi

Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Kota/Kabupaten Blitar melarang siswa SMA dan SMK melakukan corat-coret seragam saat merayakan kelulusan.

Sesuai rencana, pengumuman kelulusan siswa SMA dan SMK akan dilakukan Rabu (2/5/2018).

"Kami melarang siswa melakukan corat-coret seragam saat pengumuman kelulusan nanti. Lebih baik seragamnya disumbangkan ke anak yang membutuhkan," kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Kota/Kabupaten Blitar, Suhartono, Minggu (29/4/2018).

Selain melarang corat-coret seragam, Suhartono juga mengimbau para siswa tidak melakukan konvoi menggunakan sepeda motor untuk merayakan kelulusan.

Menurutnya, konvoi menggunakan sepeda motor dapat membahayakan para siswa dan mengganggu arus lalu lintas.

"Kami sudah mengirim surat edaran ke para kepala sekolah agar melarang siswanya melakukan corat-coret seragam dan konvoi saat pengumuman kelulusan. Kepala sekolah dan guru kami minta ikut mengawasi siswanya," ujar Suhartono.

Suhartono mengatakan sesuai jadwal pengumuman kelulusan siswa SMA dan SMK akan dilaksanakan pada 2 Mei 2018.

Pengumuman kelulusan siswa SMA dan SMK akan dipublikasikan lewat situs di masing-masing sekolah. Selain itu, para siswa juga dapat melihat pengumuman kelulusan di situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Pengumuman kelulusan juga akan dilakukan secara online," kata Suhartono.

Sebelumnya, para siswa SMA dan SMK di Kota/Kabupaten Blitar sudah selesai mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) beberapa waktu lalu.

Pelaksanaan UNBK tingkat SMA dan SMK di Blitar berjalan lancar.

Jumlah peserta UNBK tingkat SMA di Blitar sebanyak 4.508 siswa dari 31 SMA yang berada di wilayah Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Dari 31 SMA itu,

sebanyak 20 sekolah melakukan UNBK secara mandiri, sedangkan sisanya sebanyak 11 SMA melaksanakan UNBK dengan cara gabung ke sekolah lain.

Sedangkan jumlah peserta UNBK untuk tingkat SMK di Blitar sebanyak 7.434 siswa. Sejumlah siswa itu berasal dari 48 SMK di wilayah Kota Blitar dan Kabupaten Blitar.

Dari 48 SMK hanya 34 sekolah yang melaksanakan UNBK secara mandiri. Sisanya sebanyak 14 SMK mengikuti UNBK dengan cara gabung ke sekolah lain. (Surya/Sha)

Sumber : Tribunnews.com

Pengumuman Hasil UNBK SMA dan SMK Dipublikasikan Senin 30 April 2018

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, hasil pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan diumumkan Senin (30/4).

Pernyataan ini disampaikan Muhadjir, usai menjadi pembicara di Seminar Nasional Profesionalisme Guru Abad 21.

Namun, pengumuman hasil UNBK ini menurut Ahmad Widya, Kepala SMKN 7 Pandeglang, belum dapat diterima langsung siswa, karena hasil UNBK dimaksud baru dari Kemendikbud dan disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten /Kota. Pengumuman hasil UNBK baru disampaikan ke peserta didik pada Rabu, 2 Mei 2018.

“Hasil Ujian Nasional secara umum bagus di luar perkiraan kita. Kabar yang sempat mencuat ke permukaan itu masalah sulitnya soal, karena sebenarnya tidak banyak, kurang dari 10 persen total soal,” kata Muhadjir di samping Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (28/4), seperti dilansir laman republika.

Mendikbud menilai, adanya soal-soal HOTS itu masih sekadar perkenalan. Namun, nilai anak-anak terbilang sudah lumayan. Walau ada beberapa mata pelajaran yang sedikit menurun, konsep yang sama diakui akan dipertahankan tahun depan mengingat itu jadi standar.

Muhadjir mengingatkan, Ujian Nasional (UN) memang harus berstandar internasional, yang berarti menggunakan standar lembaga internasional yang sudah memiliki rekognisi. Dari sekian banyak lembaga internasional, Indonesia memang harus membuat pilihan.

“Memang harus ada langkah konkrit, termasuk sosialisasi guru, melatih guru, dan guru-guru dibiasakan membuat berbagai macam soal itu,” ujar Muhadjir.

Tapi, ia menekankan, sebenarnya langkah itu sudah disosialisasikan kepada guru-guru selama satu tahun terakhir. Perihal itu belum familiar, Muhadjir melihatnya cukup wajar karena memang barus disosialisasikan satu tahun terakhir.

Untuk itu, pelaksanaannya masih terbilang kompromis, dan kehadiran soal-soal itu masih ada di bawah 10 persen. Selain itu, ia melihat, tingkat keluhan yang hanya sebagian siswa dibandingkan 4,2 juta siswa yang mengikuti UN tidak cukup signifikan.

“Bukan berarti saya tidak memperhatikan itu, tapi itu sebetulnya tidak signifikan, hanya karena memang dimuat di media sosial saja,” kata Muhadjir.

Ini berarti, tahun depan porsi soal-soal HOTS yang dikeluhkan akan lebih banyak diajarkan maupun diujikan. Bagi Muhadjir, itu merupkaan bagian dari wacana menyiapkan siswa yang nantinya akan menjadi penghuni abad 21.

“Ada 4C itu kan critical thinking, creativity, kemampuan berkomunikasi (communication) dan colaboration, untuk Indonesia ada tambahan satu confidence. Sistem pendidikan kita kurang memberikan peluang cukup untuk anak-anak punya kepercayaan diri tinggi,” ujar Muhadjir.(red)

Sumber: Tribunnews.com

Hanya 85 Persen Siswa di Sumsel yang Bisa Ikut UNBK

Seluruh siswa kelas XII SMA Se-Indonesia tahun ajaran 2018 melakukan Ujian Nasional (UN), sejak Senin (2/4/2018).

Di Sumatera Selatan sendiri tercatat sebanyak 65.240 siswa SMA yang terdaftar ikut UN.

Tahun ini pelaksanaan UN masih menggunakan 2 cara, yakni Ujian Nasional Berbasis Nasional (UNBK) dan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP).

Ketua UN 2018 Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, Bonny Syafrian mengatakan, tahun ini total SMA pelaksana UNBK sebanyak 454 sekolah.

Tercatat ada sekitar 30 persen SMA pelaksanan UNBK di Sumsel belum bisa melaksanakan ujian secara mandiri alias menumpang di sekolah lain.

Dimana 318 sekolah diantaranya sudah melaksanakan UNBK secara mandiri dan 136 sekolah sisanya masih menumpang di sekolah lain.

Totalnya di Palembang ada 55.540 siswa yang melaksanakan UNBK, atau berkisar 85 persen dari jumlah total seluruh siswa, dan sisanya 9.700 masih UNKP.

Sumber: Tribunnews.com

Meski Banyak Keluhan, UNBK Dipertahankan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan akan tetap mempertahankan konsep soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini.

Konsep ini diyakini meningkatkan mutu pengajaran guru kepada siswa.

"Dari evaluasi, UNBK tingkat SMA/SMK dan SMP berjalan bagus. Kami pastikan konsep pembuatan soal seperti kemarin dipertahankan pada tahun-tahun mendatang,” jelas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy di Yogyakarta, Sabtu (28/4).

Menjadi pembicara kunci di hadapan guru dan mahasiswa, Muhajir hadir di seminar bertema ‘Profesionalisme Guru Abad 21’ di Universitas Negeri Yogyakarta.

Mendikbud menyatakan kebijakan menerapkan soal-soal dengan konsep Higher Order Thinking Skill (HOTS) pada UNBK perdana tahun ini bertujuan mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

Muhajir mengatakan jika didalami, sebenarnya soal-soal ujian lalu hanya 10% yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sementara sisanya soal tingkat menengah dan rendah.

“Pasalnya, yang dikeluhkan di media sosial adalah beberapa soal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Angkanya tidak lebih dari lima. Tapi apa pun pendapat yang disampaikan kami terima dan terus mengevaluasi,” lanjutnya.

Bila dibandingkan peserta ujian UNBK SMA/SMK 2018 yakni 4,2 juta siswa, maka jumlah siswa yang mengeluhkan sulitnya soal tidak signifikan.

Muhajir mengatakan penerapan ujian konsep HOTS harus ditempuh sebagai upaya meningkatkan peringkat Indonesia dalam sistem Porgramme For Internasional Students Assessment (PISA) dan Trends International Mathemactic and Science Study (TIMMS).

Penerapan konsep ujian berbasis nalar wajib dilakukan saat ini guna mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain.

Sosialisasi kebijakan ini sudah dilakukan setahun sebelum UNBK dan diakui memang belum banyak pengajar yang siap.

“Konsep bertujuan memberi penekanan kepada guru untuk membuat soal ujian sendiri bagi siswa. Ini yang selama ini tidak dilakukan guru. Mereka dimanjakan lembar kerja siswa yang dibuat pihak lain. Mulai tahun depan kami tekankan ke sana,” lanjutnya.

Dengan konsep pengajaran yang mengacu pada PISA dan TIMMS, anak didik disiapkan mampu menjawab tantangan abad 21.

Selain melibatkan penalaran, pendidikan juga diarahkan menanamkan empat kriteria pada siswa yaitu komunikasi, kreatif, berpikir kritis, kolaborasi dan kepercayaan diri.

Pada Senin (30/4), Kemendikbud akan mengumumkan hasil UNBK secara nasional. Muhajir mengatakan ada penurunan nilai pada satu mata pelajaran dibandingkan tahun lalu, namun kebocoran soal tidak ada laporan.

“Di hari pertama kami aku terjadi masalah diserver pusat karena akses bersamaan guru mengunduh soal, sehingga terjadi penyempitan dan bisa diatasi dengan pembukaan server cadangan. Di hari ke dua sampai selesai kami tidak temukan masalah,”katanya.

Banyaknya pengakses server saat ujian karena jumlah siswa SMP yang mengikuti UNBK juga banyak.

Dari sebelumnya 32%, tahun ini menjadi 63% dan ditargetkan 80% siswa SMP ikut UNBK tahun depan.

Karena itu, Kemendikbud meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi menambah infrastruktur jaringan agar tahun depan lebih banyak SMP bisa mengikuti UNBK.

Sumber : Gatra.com

Jelang Hardiknas 2018, Apa Kabar Pendidikan di Indonesia?

Jelang Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018, merupakan waktu yang tepat untuk merefleksi berbagai elemen yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. Meski sebenarnya tugas pendidikan tak terpaku pada batasan waktu, melainkan tugas yang berkesinambungan.

Tak sedikit dari kita yang melihat masalah pendidikan ibarat fenomena gunung es, yaitu gawat darurat pendidikan dipandang insidental, misal hanya terjadi saat ada kekerasan pada anak, server UNBK rusak atau ada jembatan roboh. Padahal yang terjadi di banyak ruang kelas dan keluarga di penjuru Nusantara masih penuh keterbatasan, dan terjadi setiap hari.

Dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi fakta bahwa hasil PISA 2015 menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam memahami isu sains berada pada peringkat 64, kemampuan membaca pada peringkat 66 dan kemampuan Matematika pada peringkat 65 dari 72 negara partisipan OECD.

Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengungkapkan prosentase pencapaian siswa Indonesia sesuai standar yang ditetapkan masing-masing di bidang Matematika adalah 77,13 persen, Membaca sebesar 46,83 persen dan Sains sebesar 73,61 persen (Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2016).

Di aspek lain, menurut data UNICEF (2015) 26 persen anak Indonesia mengalami kekerasan di rumah. Survey ICRW (2013-2014) menunjukkan 27,2 persen siswa laki-laki dan 9,4% perempuan dari total 1.682 siswa antara usia 12-14 tahun pernah mengalami kekerasan di sekolah.

“Harapan akan keluaran pendidikan yang lebih baik di Indonesia hanya dapat terwujud secara efektif dengan mengubah paradigma pendidikan lebih dari sekedar kegiatan bersekolah. Pendidikan merupakan sebuah proses kolaboratif antara anak, orangtua, pendidik dan lingkungan sosialnya – yang terjadi sepanjang hayat,” tegas Najelaa Shihab, Inisiator Jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG) dalam rilis yang diterima VIVA, Jumat, 27 April 2018.

Ia menggarisbawahi 3 persoalan utama pembangunan di bidang pendidikan, yaitu akses, kualitas dan pemerataan. “Sekitar 5 juta anak usia sekolah di Indonesia, tidak bersekolah. Perbaikan akses memberi kesempatan anak untuk sekolah, tetapi saat berada di ruang kelas mereka dijejali informasi yang seharusnya mudah didapat dengan teknologi,” imbuhnya.

Peningkatan kualitas belajar-mengajar dijumpai Najelaa saat ini masih sebatas pada upaya pemenuhan tujuan yang terlalu rendah yaitu untuk meningkatkan pencapaian nilai ujian atau demi mengungkit data statistik di permukaan.

“Kualitas belum mempercakapkan kebutuhan asasi manusia, pengembangan individu yang utuh untuk menjawab kebutuhan abad 21, atau memupuk insan yang siap berkontribusi bagi dan dari negeri ini. Pemerataan yang diupayakan dalam kenyataannya kerap kekurangan sumber daya atau terjebak dalam sistem penganggaran,” jelasnya lagi.

Peningkatan terhadap akses dan kualitas pendidikan dapat terwujud lebih progresif dan berdampak lebih besar melalui pelibatan aktif seluruh unsur publik. Jaringan SMSG yang lahir sejak 3 tahun lalu bergerak untuk mempercepat pencapaian aspirasi pendidikan Indonesia.

Najelaa mengungkapkan, “SMSG berupaya menggalang emansipasi untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya, melalui berbagai kegiatan kreatif berbentuk sesi peningkatan kesadaran, dialog, konsultasi dan kemitraan program yang menyentuh dan melibatkan anak atau murid, guru, orangtua dan mitra kerja lainnya secara sekaligus.”

Hingga 2018, SMSG didukung oleh sedikitnya 399 komunitas dan organisasi pendidikan, telah menjangkau sedikitnya 500 sekolah yang menjalankan praktik baik dan menjangkau sebanyak 357.329 relawan guru, orangtua dan siswa di 252 kabupaten/kota, serta bekerja sama dengan 15 kementerian/lembaga dan 28 media massa.

Para pegiat Jaringan SMSG percaya, publik yang terdiri dari unsur komunitas atau organisasi pendidikan dan guru, tokoh masyarakat, pemuda, korporasi swasta atau sektor industri, media dan masih banyak lagi, dapat dan perlu diberdayakan untuk turut mendorong peningkatan pendidikan Indonesia.

Pemilihan nama “Semua Murid Semua Guru” sendiri memperluas makna pendidikan yang tidak dibatasi hanya oleh sekolah. Najelaa mengatakan, “Masing-masing dari kita adalah subjek dan sekaligus objek pendidikan. Begitu banyak kegagalan paham yang bisa kita atasi dengan kegemaran belajar karena kita SEMUA MURID. Begitu banyak peran yang kita bisa ambil dan teladan yang bisa kita lakukan karena kita SEMUA GURU.

Di dalam menjalankan aktivitasnya, SMSG berpegang pada 5 prinsip jaringan yang dilaksanakan bersama, yaitu 1. Mewujudka pelajar sepanjang hayat; 2. Memberdayakan semua pelaku dan peran; 3. Menghargai keragaman; 4. Berkolaborasi secara terbuka; dan 5. Mempraktikkan standar baik.

Sumber: Viva.co.id

Isu Kesejahteraan Perumahan Guru Jelang Hari Pendidikan Nasional

Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan guru dengan mendorong sertifikasi guru dan tunjangan profesi guru. Namun kendala kemudian muncul ketika perbaikan kesejahteraan guru tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan negara. "Saya percaya peningkatan mutu guru harus dibarengi dengan kebaikan kesejahteraan yang tentu harus disesuaikan dengan kemampuan negara," kata Jokowi dalam peringatan hari ulang tahun Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGRI) ke-72 dan Hari Guru Nasional 2017 lalu di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi (2/12/2017). Tentunya diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi hal ini.

Menyambut Hari Pendidikan Nasional, PT. Bank Rakyat Indonesia Indonesia ( BRI) berupaya menunjukan komitmen tersebut untuk memajukan sektor pendidikan terutama dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Bersama dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTP), hari ini (27/4/2018) dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama antara pihak BRI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) untuk pemberian fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi para guru. "Tahun ini BRI bersama Kemendikbud berkomitmen untuk membantu guru yang ditugaskan di wilayah terdepan, terluar dan terisolasi (3T) di Indonesia," jelas Direktur Konsumer BRI Handayani. Untuk itu, pada tahap pertama BRI akan memprioritaskan program ini untuk 2.000 guru di wilayah 3T mendapatkan bantuan KPR. Sebagai proyek percontohan akan segera dibangun perumahan KPR di wilyah guru di Kupang NTT, Papua dan Manokwari, jelasnya. "Cluster perumahan guru ini rencananya juga akan dilengkapi dengan fasilitas jaringan WiFi untuk menunjang tugas-tugas guru," tambah Hanyani. Sumber: Kompas.com

SMA Widya Bhakti Palembang Ikuti UNBK Tahun 2018

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan.

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK. Jumlah sekolah yang mengikuti UNBK tahun 2017 melonjak tajam menjadi 30.577 sekolah yang terdiri dari 11.096 SMP/MTs, 9.652 SMA/MA dan 9.829 SMK. Meningkatnya jumlah sekolah UNBK pada tahun 2017 ini seiring dengan kebijakan resources sharing yang dikeluarkan oleh Kemendikbud yaitu memperkenankan sekolah yang sarana komputernya masih terbatas melaksanakan UNBK di sekolah lain yang sarana komputernya sudah memadai.

Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).